Aku yakin negeri ini sedang membangun kebesarannya. Aku ingin menjadi salah satu bata yg tersusun menopang perwujudannya...
Belajarnya Hilal
Akal sehat sehat itu seperti lilin dan apinya adalah amarah. Amarah yang dibiarkan berkobar hanya akan membuat sang lilin meleleh, terkikis dan lemah tak berarti lagi… lalu gelap tak tersisa. -9 april 2003
Tuesday, December 28, 2010
Friday, December 10, 2010
Dari Aku Yang Diantara Mereka
Aku melihat hitam dan putih di depan mata kepalaku sendiri. Tampak jelas sekali tanpa bisa kuhindari. Berulang kali kutolehkan kekanan dan kekiri, keatas dan kebawah, warna itu selalu ada. Kontras sekali. Hitam dan putih.
Aku juga melihat langit dan bumi. Yang satu tinggi tak terjangkau. Membuat kepalaku harus mendongak untuk melihatnya.Terkadang membuatku tersenyum, tak jarang juga membuatku seperti merasa lelah. Yang satu lagi, ada di bawah sana. Memberi tempat untuk dipijak. Membuatku menunduk menatapnya. Bersyukur karena masih di atas nya. Keduanya seperti keseimbangan yang saling mengisi. Kontras sekali. Langit dam Bumi.
Seperti sebelumnya, aku juga mendapati atap dan lantai di mataku. Yang satu lebih tinggi, menaungi yang dibawahnya. Yang dibawah, memberi keteguhan untuk menyangga berdirinya atap. Saling membutuhkan dengan fungsinya masing masing. Saling memberi manfaat asal semua berada pada fungsinya. Meski mereka kontras sekali. Atap dan lantai.
Dan tanganku tetap terkunci. Kakiku membeku. Lidahku kelu. Mataku rapat. Hanya badanku bergetar hebat. Aku melihat semua menyatu. Tak menyisakan apapun. Tak lagi jelas semua. Tak sanggup aku pahami. Silau menyakitkan. Bukan karena apa yang terjadi. Namun karena lemahnya raga. Dungunya jiwa... Menyungkur sepatutnya aku. Tak pula terjadi.. Kepuraan semua..
Aku juga melihat langit dan bumi. Yang satu tinggi tak terjangkau. Membuat kepalaku harus mendongak untuk melihatnya.Terkadang membuatku tersenyum, tak jarang juga membuatku seperti merasa lelah. Yang satu lagi, ada di bawah sana. Memberi tempat untuk dipijak. Membuatku menunduk menatapnya. Bersyukur karena masih di atas nya. Keduanya seperti keseimbangan yang saling mengisi. Kontras sekali. Langit dam Bumi.
Seperti sebelumnya, aku juga mendapati atap dan lantai di mataku. Yang satu lebih tinggi, menaungi yang dibawahnya. Yang dibawah, memberi keteguhan untuk menyangga berdirinya atap. Saling membutuhkan dengan fungsinya masing masing. Saling memberi manfaat asal semua berada pada fungsinya. Meski mereka kontras sekali. Atap dan lantai.
Dan tanganku tetap terkunci. Kakiku membeku. Lidahku kelu. Mataku rapat. Hanya badanku bergetar hebat. Aku melihat semua menyatu. Tak menyisakan apapun. Tak lagi jelas semua. Tak sanggup aku pahami. Silau menyakitkan. Bukan karena apa yang terjadi. Namun karena lemahnya raga. Dungunya jiwa... Menyungkur sepatutnya aku. Tak pula terjadi.. Kepuraan semua..
Subscribe to:
Posts (Atom)
